Dapur Mungil Sarat Penyimpanan

 

Siapa bilang ukuran dapur yang ideal harus besar? Sekalipun berukuran mungil, jika ditata dengan cermat, semua sudut bisa dimanfaatkan sehingga tercipta kenyamanan.

Dengan ukuran 2,5 m x 3 m, dapur kecil itu tampak apik. Selain karena seperangkat lemarinya yang sangat natural terlihat manis, kerapiannya pun menjadi kunci keapikan dapur ini. Dengan penataan yang serba praktis, dapur milik pasangan Sapta Noveriani dan Sapta Juliansyah ini memang cocok untuk rumah yang berkonsep terbuka. Artinya, dapur ini menjadi satu bagian dengan ruang-ruang yang memiliki fungsi lain di sekitarnya.

Lemari Kayu Mindi

Semua lemari yang ia ganti setahun yang lalu ini dipesan Sapta di perajin funitur yang banyak terdapat di

sekitar rumahnya. “Pesan furnitur sendiri lebih enak, karena selain ukuran dan modelnya sesuai dengan kebutuhan, harganya pun lebih murah,” ungkapnya. Seperangkat lemari dapur tersebut ia dapatkan seharga sekitar Rp 8 juta. Ini menurutnya sudah termasuk ongkos kirim serta ongkos pasang lemari tersebut di dapurnya.

Bahan yang dipilih Sapta untuk dapurnya adalah kayu mindi. Jenis kayu ini mempunyai serat yang mirip dengan jati belanda, yaitu alur yang besar-besar dan jelas terlihat. Pertimbangan lain ketika ia memilih kayu mindi adalah warnanya yang muda (terang). Karena dapurnya tergolong mungil, warna terang ini diharapkan tidak semakin membuat kesan sempit di dapur.

Kayu mindi ini kemudian diberi finishing melamik bening, agar kesan naturalnya kuat dan alur-alurnya yang bagus terlihat. Ia memilih finishing yang glossy atau mengkilap, agar permukaan lemari tidak cepat kotor terkena noda dari dapur.

Maksimalkan Semua Sudut

Agar semua ruang dimaksimalkan untuk penyimpanan, Sapta membuat lemari yang penuh sampai ke sudut-sudut di bawah anak tangga. Dengan demikian, bentuk segiiga pun banyak ditemui pada lemari dapurnya. “Kalau sudutnya saya biarkan terbuka, saya memang masih bisa menyimpan barang di atasnya. Tetapi, di tempat itu debu bisa bersarang,” ujarnya.

Tidak saja di bawah tangga, di setiap sudut ruang ini pun dijadikannya tempat penyimpanan. Contohnya adalah laci-laci kotak kecil yang berjejer di bawah meja dapur, di samping alat panggangan. Sementara it, laci-laci yang ukurannya agak besar ditempatkan di sudut dapur.

Meja Makan Praktis

Langsung bersambungan dengan dapur, dibuatlah meja makan untuk 2 orang yang kursinya diletakkan di luar area dapur. Meja makan ini sangat praktis, terutama jika meja makan tidak begitu sering digunakan. Sapta pun mengakui itu. “Kami di sini makan di mana saja, bisa di sofa, bisa di karpet,” katanya sambil menunjuk ruang duduk yang ada di sebelah dapur.

Sapta memilih meja dapur serta meja makan dari bahan granit. Ia mengungkapkan alasannya memilih granit adalah karena kekuatannya. Bahan ini tidak mudah tergores seperti kayu atau bahkan marmer. Sebelum dipasang, meja granit ini diberi polesan khusus yang membuatnya lebih tahan terhadap noda. Warna merah tua dipilih Sapta karena menurutnya di atas warna ini, bercak-bercak noda makanan atau minuman yang tidak bisa hilang akan tersamar dengan warna serta coraknya.

Kursi Enceng Gondok

Tidak hanya lemari dan meja dapur yang dipesan oleh Sapta. Kursi makan yang jumlahnya hanya dua buah juga tidak ada duanya alias merupakan pesanan khusus. Kursi unik yang terbuat dari anyaman enceng gondok ini ditemukannya saat ia sedang berjalan-jalan di daerah Kemang. Kursi tersebut aslinya di-finishing warna kehijauan dan sangat menjulang. Wajar saja, karena kursi tersebut memang dirancang untuk dipadankan dengan meja makan yang juga tinggi.

Agar bisa “masuk” dengan meja kecilnya, kaki kursi ini ukurannya dibuat khusus, lebih pendek sekitar 20 cm. Ini karena meja makan mungilnya terhubung dengan meja dapur yang terletak di lantai dapur yang memang lebih rendah sekitar 30 cm dari lantai ruang duduk. Finishing kursi seharga Rp 350.000 per buah ini pun diganti dengan warna yang lebih tua agar lebih netral di dalam ruangan yang sudah penuh warna tersebut.

Untuk memiliki dapur yang nyaman dan cantik, tidak dibutuhkan ruang yang luas. Dengan pengaturan yang cermat, semua barang dapur bisa tersusun rapi dan kegiatan di dapur pun menjadi lebih nyaman.

Penghisap Asap di Dapur Tertutup

Karena terbatasnya lahan, kadang dapur yang seharusnya berhubungan langsung dengan ruang terbuka, tidak bisa diwujudkan. Padahal, asap, uap minyak, serta bau-bauan yang menyengat hasil dari kegiatan masak-memasak di dapur harus segera keluar dari dapur. Kalau tidak, uap-uap tersebut bisa membuat noda pada dinding atau lemari dapur, selain juga mengganggu kenyamanan.

Untuk itulah di sebuah dapur perlu adanya sebuah pengisap asap atau yang disebut cooker hood. Alat ini cara kerjanya hampir sama dengan exhaust fan yang menyedot asap dan mengalirkannya melalui pipa ke tempat lain. Asap ini bisa dialirkan ke luar rumah atau ke dalam rumah kembali, setelah sebelumnya disaring hingga bersih.

Di dalam pengisap asap ini terdapat kipas untuk menyedot udara dan lapisan karbon untuk menyaring udara kotor. Lapisan yang bentuknya seperti busa ini setiap beberapa bulan sekali sebaiknya diganti agar ia tetap bisa menyaring udara dengan baik.

Kaca Es Sembunyikan Barang Dapur

Memiliki ruang dapur yang menyatu dengan ruang-ruang lainnya memang menyenangkan. Selagi Anda menyiapkan makan siang, Anda bisa tetap mengawasi anak Anda bermain di ruang keluarga. Jika ada teman datang berkunjung, Anda juga tetap bisa meneruskan ngerumpi tanpa harus berhenti memasak. Tetapi, dapur yang langsung terlihat dari segala penjuru rumah ini juga mewajibkan satu hal: dapur harus selalu tampak rapi.

Namun, normalnya dapur, botol berbagai ukuran, toples bumbu dapur, bungkusan plastik, serta berbagai benda lain akan memenuhi setiap raknya. Jika lemari kitchen set terbuat dari kaca, maka terlihatlah segala benda tadi. Akibatnya, dapur pun tidak bisa lagi secantik dan serapi yang pertama Anda bayangkan.

Sapta pun mengalami hal ini. Ia ingin agar dapurnya yang bersebelahan dengan tempat ia menerima tamu-tamu dekat, selalu terlihat rapi. Ia mendapat akal yang mudah dan murah untuk masalah ini. Di setiap lemari yang terbuat dari kaca, ia menempelkan stiker yang menimbulkan efek kaca es. Dengan begitu, barang-barang yang tidak perlu dilihat tamu bisa disembunyikan dari pandangan. Ini pun dilakukanya dengan mudah dan murah, tanpa perlu menggunakan kaca es asli.

LOKASI: KEDIAMAN SAPTA NOVERIANI – SAPTA JULIANSYAH, REMPOA, CIPUTAT, TANGERANG

FOTO: TNR

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: